Jumat, 15 Januari 2016

Terdiam dalam renunganku bergejolak sejuta harapan dan pertanyaan, ketika banyak orang diperbudak oleh harta dunia tanpa mereka mampu memperbudak harta mereka. Hal ini sungguh tidak relevan dengan kekayaan bangsa ini, mulai dari tambang emas, kilang minyak, sumber gas alam, hutan hijau pun terbentang luas, “kurang luar biasa apa Allah SWT memberikan kekayaan bangsa ini?!”. Semua ini menimbulkan pertanyaan besar “Apakah justru kekayaan inilah yang memperbudak orang-orang? Sehingga korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan segala pembohongan besar di negeri ini itu lebih pasti daripada gaya gravitasi yang mempengaruhi bumi ini?” tersirat sebuah jawaban dari analogi sederhanaku yaitu “ketika kita analogikan semua itu seperti tangan yang sedang mengenggam pasir dengan sangat erat di sebuah padang pasir yang luas, meski sedikit demi sedikit pasir itu pasti akan jatuh dan akan kembali ke asalnya”. Dari analogi itu tersirat keyakinan di hatiku, bahwa semua yang ada di bumi ini dan negeri ini tentu hanyalah titipan Dia sang Maha Pencipta”.

Gejolak jiwa inilah yang menuntun intuisiku bangkit merangkai sebuah goresan-goresan mimpi kecil dalam blog sederhanaku belum lama ini, agar mimpi-mimpi itu mampu kubaca setiap saat ketika ku mulai larut dalam hal-hal tabu dunia. Dan saya yakin semua itu akan menjadi sebuah karya yang besar untuk bangsa ini. Saat aku menulis “Mimpiku Amanahku Andai Aku Menjadi Ketua KPK” teringat ku pada sebuah pertanyaaan klasik “Kejujuran itu apa sih? apa untungnya untuk kita?” pertanyaan singkat itu juga sempat meracuni pikiranku setahun yang lalu. Kini ingin kugoreskan kembali semua pertanyaan itu agar ku ingat bahwa hal itu ialah catatan-catatan manis dalam proses hidup ini yang tak patut untuk dilupakan. Catatan ini berawal sekitar setahun yang lalu saat ku dihadapkan pada surat keterangan dokter yang menyatakan terdapat kelainan genetik yaitu “colour blind”. Sebuah kenyataan yang kubayangkan akan menutup semua apa yang ku impikan sebelumnya, saat itu saya yang sedang duduk dibangku SMA jurusan IPA berharap mampu melanjutkan study di EVE Holcim Indonesia sebuah program pendidikan yang memproyeksikan lulusan SMA sederajat menjadi teknisi semen di PT.Holcim Indonesia di Cilacap. Eforia tujuan hidup yang terlalu fantastis itu telah merusak proses hidup yang sesungguhnya, saat itu dalam pikiranku mungkin aku sudah tidak bisa lagi menjadi orang sukses yang mampu berkarya untuk mengobati perjuangan orang-orang terdekatku yang sudah berjuang demi kesuksesanku. Sampai akhirnya ku menemukan sebuah kenyataan unik, yang saya yakin semua ini adalah hidayah dan jalan Allah SWT. Dimana dan entah mengapa ada sebuah bisikan sederhana yang menuntunku untuk mengukuti seleksi SNMPTN Undangan dan aku pun tak mengira telah memilih PPKn sebuah program study yang menurut banyak orang tidak elite dan tidak relevan dengan basic akademik yang saat itu kujalani. Tapi kuyakin akan ku ubah semua itu dalam sebuah bungkusan prestasi yang manis. Betapa luar biasanya ketika kita mampu mensyukuri semua itu. Jika berandai pada saat itu ku manipulasi surat keterangan dokter itu mungkin saat ini aku telah masuk dalam pembohongan besar yang merusak bangsa ini.


Catatan-catatan inilah yang menuntunku pada jalur yang luar biasa, walaupun ku tak sanggup berbicara seperti halnya para pemikir dan ahli pembuat kebijakan negeri ini, namun setidaknya ku mampu menulis semua ini sebagai amanahku. Teringat pada kisah Umar yang luar biasa, seorang pemimpin yang begitu amanah karena rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah SWT, Umar sempat menyatakan bahwa, “Apabila ada anak kambing terperosok karena jalanan yang rusak, Umarlah yang bertanggung jawab di dunia dan akhirat.” Belajar dari semua itu ku yakin bahwa berjuang itu tak harus lewat sebuah tindakan-tindakan turun kejalan, bagiku goresan-goresan sederhana ini pun sebuah perjuangan, karena ku tak mau terjebak pada permainan-permainan prinsip yang justru akan mengengkang hidup ini.

0 komentar: