Terdiam dalam renunganku bergejolak sejuta harapan dan
pertanyaan, ketika banyak orang diperbudak oleh harta dunia tanpa mereka mampu
memperbudak harta mereka. Hal ini sungguh tidak relevan dengan kekayaan bangsa
ini, mulai dari tambang emas, kilang minyak, sumber gas alam, hutan hijau pun
terbentang luas, “kurang luar biasa apa Allah SWT memberikan kekayaan bangsa
ini?!”. Semua ini menimbulkan pertanyaan besar “Apakah justru kekayaan inilah
yang memperbudak orang-orang? Sehingga korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan
segala pembohongan besar di negeri ini itu lebih pasti daripada gaya gravitasi
yang mempengaruhi bumi ini?” tersirat sebuah jawaban dari analogi sederhanaku
yaitu “ketika kita analogikan semua itu seperti tangan yang sedang
mengenggam pasir dengan sangat erat di sebuah padang pasir yang luas, meski
sedikit demi sedikit pasir itu pasti akan jatuh dan akan kembali ke asalnya”.
Dari analogi itu tersirat keyakinan di hatiku, bahwa semua yang ada di bumi ini
dan negeri ini tentu hanyalah titipan Dia sang Maha Pencipta”.
Gejolak jiwa inilah yang menuntun intuisiku bangkit
merangkai sebuah goresan-goresan mimpi kecil dalam blog sederhanaku belum lama
ini, agar mimpi-mimpi itu mampu kubaca setiap saat ketika ku mulai larut dalam
hal-hal tabu dunia. Dan saya yakin semua itu akan menjadi sebuah karya yang
besar untuk bangsa ini. Saat aku menulis “Mimpiku Amanahku Andai Aku Menjadi
Ketua KPK” teringat ku pada sebuah pertanyaaan klasik “Kejujuran itu apa sih?
apa untungnya untuk kita?” pertanyaan singkat itu juga sempat meracuni
pikiranku setahun yang lalu. Kini ingin kugoreskan kembali semua pertanyaan itu
agar ku ingat bahwa hal itu ialah catatan-catatan manis dalam proses hidup ini
yang tak patut untuk dilupakan. Catatan ini berawal sekitar setahun yang lalu
saat ku dihadapkan pada surat keterangan dokter yang menyatakan terdapat
kelainan genetik yaitu “colour blind”. Sebuah kenyataan yang kubayangkan
akan menutup semua apa yang ku impikan sebelumnya, saat itu saya yang sedang
duduk dibangku SMA jurusan IPA berharap mampu melanjutkan study di
EVE Holcim Indonesia sebuah program pendidikan yang memproyeksikan lulusan SMA
sederajat menjadi teknisi semen di PT.Holcim Indonesia di Cilacap. Eforia
tujuan hidup yang terlalu fantastis itu telah merusak proses hidup yang
sesungguhnya, saat itu dalam pikiranku mungkin aku sudah tidak bisa lagi
menjadi orang sukses yang mampu berkarya untuk mengobati perjuangan orang-orang
terdekatku yang sudah berjuang demi kesuksesanku. Sampai akhirnya ku menemukan
sebuah kenyataan unik, yang saya yakin semua ini adalah hidayah dan jalan Allah
SWT. Dimana dan entah mengapa ada sebuah bisikan sederhana yang menuntunku
untuk mengukuti seleksi SNMPTN Undangan dan aku pun tak mengira telah memilih
PPKn sebuah program study yang menurut banyak orang tidak elite dan
tidak relevan dengan basic akademik yang saat itu kujalani. Tapi
kuyakin akan ku ubah semua itu dalam sebuah bungkusan prestasi yang manis.
Betapa luar biasanya ketika kita mampu mensyukuri semua itu. Jika berandai pada
saat itu ku manipulasi surat keterangan dokter itu mungkin saat ini aku telah
masuk dalam pembohongan besar yang merusak bangsa ini.
Catatan-catatan inilah yang menuntunku pada jalur yang
luar biasa, walaupun ku tak sanggup berbicara seperti halnya para pemikir dan
ahli pembuat kebijakan negeri ini, namun setidaknya ku mampu menulis semua ini
sebagai amanahku. Teringat pada kisah Umar yang luar biasa, seorang pemimpin
yang begitu amanah karena rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah SWT,
Umar sempat menyatakan bahwa, “Apabila ada anak kambing terperosok karena
jalanan yang rusak, Umarlah yang bertanggung jawab di dunia dan akhirat.”
Belajar dari semua itu ku yakin bahwa berjuang itu tak harus lewat sebuah
tindakan-tindakan turun kejalan, bagiku goresan-goresan sederhana ini pun
sebuah perjuangan, karena ku tak mau terjebak pada permainan-permainan prinsip
yang justru akan mengengkang hidup ini.

0 komentar:
Posting Komentar