Sabtu, 16 Januari 2016

Sudah seratus hari lebih masa kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan kabinet kerjanya. Berbagai program yang katanya “pro rakyat” telah dicanangkan dalam nawa cita bapak presiden semenjak dilantik menjadi orang nomor satu di negeri yang penuh dengan kebhinekaan ini. Pertanyaan yang muncul sejauh mana janji-janji kampanye itu direalisasikan?

Presiden joko widodo yang dipilih oleh lima puluh juta lebih rakyat indonesia sekarang bukan hanya Presiden bagi yang memilihnya tapi Presiden seluruh masyarakat indonesia yang jumlahnya lebih dari dua ratus juta jiwa. Untuk itu sebagai bagian dari ratusan juta itu setiap warga punya hak untuk memepertanyakan kinerja pemimpinnya termasuk saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia melalui surat cinta ini.

Tentu masih sangat segar dalam ingatan kita ketika bapak Jokowi-JK pada masa kampanyenya untuk melaksanakan program pro rakyat, tunduk pada konstitusi dan yang terpenting membangun koaalisi tanpa syarat. Banyak yang pesimis dengan janji-janji itu yang tidak jarang mengatakan apakah benar ada politik yang demikian?

Langkah pertama yang dilakukan Presiden untuk menjalankan pemerintahannya dengan membentuk kabinet dimana semua orang berharap inilah saat pertama Jokowi meralisasikan janji kampanyenya untuk membentuk kabinet ramping tanpa unsur kepentingan golongannya. Namun apa yang terjadi? Nyatanya 16 dari 34 kursi menteri diduduki oleh “petugas partai” yang tentunya mereka yang getol mendukung Jokowi pada masa kampanye. Tidak sampai disini orang partai pengusung memperoleh jabatan enting dengan embel “hak prerogratif”, selanjutnya HM. Prasetyo yang pada saat itu aktif pengurus partai Nasdem ditunjuk sebagai Jaksa Agung RI. Kejadian ini disusul terus sampai pada pembentukan Wantimpres yang sangat kental dengan nuansa politik.

Dan akhirnya pada pertengahan bulan januari 2015 presiden mendapatkan ujian ketika calon kapolri yang diusulkannya ternyata ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Anti Rasuah (KPK-red) karena adanya dugaaan kepemilikan rekening gendut. Dalam kekisruhan ini anehnya DPR menyatakan calon Kapolri lolos dengan stempel paripurna. Dan inilah bola panas bergulir ketika suasana dilematis bagi presiden, melantik tersangka maka DPR akan mempertanyakan, tidak melantik pun akan jadi masalah. Jalan tengah diambil dengan menunda pelantikan dan mengangkat Plt Kapolri. Apakah kemudian ini menjadi selesai? Jawabannya tidak, karena justru “perang” kembali dimulai antara KPK Vs Polri ketika pimpinan KPK ditangkap dan ditretapkan sebagai tersangka, anehnya satu-persatu pimpinan KPK mulai “dipreteli” sehingga KPK menjadi lemah. Publik pun marah dan bahu membahu memberikan dukungan moril kepada KPK dengan menyatakan sikap #SaveKPK yang tumpah ruah di gedung KPK, di jalan, di lembaga pegiat anti korupsi, para akademisi bahkan para simpatisan yang dulu mendukung Presiden. Semuanya menuntut Presiden untuk bertindak tegas dalam mengatasi persoalan ini. Uniknya masa yang mendukung ini dikatakan sebagai rakyat nggak jelas oleh menteri Tedjo yang notabene adalah pembantu presiden. Rakyat bukan hanya marah atas pernyataan ini tetapi menanyakan layakah seorang menteri berkata demikian?

Saat ini seluruh rakyat indonesia menunggu ketegasanmu wahai bapak Presiden, engkau adalah pemimpin kami rakyat indonesia, sudah sangat jelas aspirasi rakyat yang berkembang meneriakan suara lantang meminta ketegasanmu bapak presiden, kami ingin engkau buktikan bahwa engkau ada bersama rakyat. Kami tidak ingin pemeberantasan korupsi dineger ini mandul dan lembaga penegak hukum dikebiri oleh kepentingan-kepentingan para koruptor yang saat ini mereka tertawa terbahak-bahak melihat kejadian ini. Kunjungan bapak keluar negeri tentu menjadi hal yang patut kami pertanyakan ditengah kegaduhan politik dinegeri ini. Bukan kami tidak mendukung bapak pergi ke luar negeri, tapi alangkah eloknya engkau bisa mengambil keputusan sebelum melangkah ke negeri orang. Dalam safari bapak presiden di luar negeri malah menimbulkan gejolak baru karena adanya MoU yang di indikasikan tidak pro rakyat yang banyak menimbulkan kritik  tajam atas kejadian tersebut. Kami mungkin benar rakyat nggak jelas tetapi kami juga membutuhkan kejelasan bapak dalam menangani kegaduhan yang sedang terjadi di negeri kita tercinta ini.

Gerakan Mahasiswa
Bapak Presiden yang memiliki kewenangan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan sesungguhnya kami bangga padamu, engkau yang dulu berhasil memimpin kota Solo dan juga Ibu Kota Republik ini. Rasa bangga ini bukan berarti kami “dininabobokan” oleh segala apa yang engkau lakukan, kami akan mengawasi segala kebijakan entah itu pro atau tidak.

Akhir-akhir rakyat sudah banyak tumpah dijalanan meminta ketegasan Presiden, membentangkan spanduk-spanduk menagih janji nawa cita yang bapak presiden canangkan. Berbagai elemen masyarakat sipil meminta presiden untuk menggunakan hak “prerogatifny” untuk mengatasi persoalan ini. Janagan sampai persoalan ini menjadi berlarut-larut sehingga engkau terkenang sebagai pemimpin yang “santai”. Kami rakyat meminta dengan hormat agar engkau tetap tunduk pada konstitusi dan kehendak rakyat, lepaskan sandera politikmu dan kami rakyat akan selalu bersamamu.

Jangan sampai romantisme gerakan mahsiswa 66 dan 98 terulang di era reformasi hanya karena persoalan ini, jangan tantang kami untuk malukan itu. Masih banyak permasalahn bangsa ini yang wajib bapak entaskan dimana bapak harus tegar dan kuat dengan segala ketegasan yang bapak miliki. Sekali lagi bapak adalah Presiden Rakyat Indonesia jadi berilah kami kesejahteraan dan kemakmuran disegala bidang.

21 Mei 2015 kemarin menjadi langkah gerakan mahsiswa dalam mengevaluasi kinerja pemerintahaan Jokowi-Jk sekaligus memperingati 17 tahun reformasi kita. Mahasiwa dari berbagai daerah tumpah ruah dijalanan untuk mengoreksi nawa cita Presiden kita. Bukan untuk menggulingkan tetapi untuk mengingatkan bahwa janji-janji yang engkau ucapkan jangan kau selalu ingkari. Presiden akhirnya meredam gerakan mahasiswa dengan menjanjikan pertemuan pada 25 Mei 2015 di Istana dengan 50 Presiden Mahasiswa seluruh Indonesia melalui Mensesneg dan Kepala Staf Kepresidenan. Namun janji tinggalah janji kembali itu dibatlakan 2 hari sebelum terlaksana. Rona kekecewaan muncul hingga tumpah pada media sosial yang menjadi trending topic dunia dengan #JokowiBohong. Seolah tidak mendengar para penguasa dan orang-orang yang berada dilingkaran kekuasaannya diam membisu bak boneka dipajang di etalase toko. Mahasiswa sebagai pemeran intelektual sekligus penyambung lidah rakyat saja kau bohongi apa lagi rakyat??

Selengkapnya silahkan download disini!

(Ulul Mukmin, S.Pd. - Pegiat Pendidikan Politik dan Anti Korupsi)



0 komentar: